PENYUSUNAN RENKON WILAYAH KERJA PELABUHAN LAUT SARMI (Kantor Bupati Kab.sarmi)

                                                             SOSIALISASI PENYUSUNAN RENKON
                                                        WILAYAH KERJA PELABUHAN LAUT SARMI
                                             KANTOR KESEHATAN PELABUHAN KELAS II JAYAPURA

  1.                                                                                   TAHUN 2019

 A. Gambaran Umum
            
Paradigma baru tentang ancaman kesehatan masyarakat secara global telah berubah dari ancaman kesehatan masyarakat secara global pada saat ini dan dimasa mendatang karena bukan hanya penyakit karantina (Pes,kolera dan yellow fever) sebagaimana dalam IHR 2005. Penyakit tidak mengenal batas wilayah maupun negara, dia dapat muncul dan menyerang tanpa di ketahui kapan dan dimana saja,muculnya penyakit New Emerging Disease maupun Re-Emerging Disease, seperti penyakit SARS, Avian Influensa (H5N1), Pandemi Flu baru A H1N1, Hand foot mouth disease (HFMD), Poliomielitis dan MERS CoV.
                   Tujuan IHR 2005 ialah mencegah, melindungi terhadap dan menanggulangi penyebaran penyakit antar negara tanpa pembatasan perjalanan dan perdagangan  yang tidak perlu.
Inti dari amanat IHR 2005 ialah setiap negara harus  mampu mendeteksi secara dini di masyarakat dan mampu segera merespon semua kejadian berpotensi sebagai penyakit infeksi emerging (PIE).
        Disamping itu pada pintu masuk harus mampu mencegah dan mengatasi penyebaran semua penyakit/kejadian  yang berpotensi sebagai penyakit infeksi Emerging (PIE) di Point of entry (Pintu masuk) dan harus mampu mengatasi. Penyebaran penyakit lintas wilayah/negara melalui transportasi,
maka untuk mencegah penyebaran penyakit lintas wilayah/negara diatur secara internasional melalui internasional  Health regulations (IHR) 2005. Dari 66 pasal (article) dan 9 lampiran, ada 33 pasal mengatur  point of entry, Dalam IHR 2005 Lampiran 1B, Disebutkan persyaratan minimal untuk kemampuan utama bagi Point of entry
          salah satu persyaratan minimal tersebut ialah setiap point of entry harus telah mempunyai dokumen Rencana kontijensi respon menghadapi kemungkinan Public Health Emergency of international concern (PHEIC), Serta penyakit infeksi emerging (PIE)’.
         
          Untuk memaksimalkan kemampuan dan pemahaman petugas di point of entry dalam menghadapi situasi tersebut, maka kantor kesehatan pelabuhan kelas II jayapura wilayah kerja pelabuhan laut sarmi melaksanakan Sosialisasi penyusunan renkon dengan memperlihatkan langkah-langkah yang dilakukan dalam menangani dan mencegah berjangkitnya penyakit infeksi emerging di Indonesia dengan melibatkan seluruh lintas sector terkait di pintu masuk negara maupun wilayah.
   B. Manfaat
           
Manfaat di selenggarakan Sosialisasi penyusunan renkon, Penanganan penyakit infeksi
emerging pada situasi rutin maupun respon PHEIC adalah tersusunnya dokumen rencana kontijensi yang menjadi acuan jika terjadi kedaruratan kesehatan masyarakat di wilayah pelabuhan laut sarmi.
   C. Waktu pelaksanaan kegiatan.
            
Kegiatan dilaksanakan Hari Kamis tanggal 07 November 2019 bertempat di ruang pertemuan kantor bupati sarmi. Kegiatan di buka oleh bupati sarmi oleh Drs. E.Fonataba,MM yang di hadiri dari dinas kesehatan kab.sarmi, Pemda Kab.sarmi , stakeholder, tokoh agama dan tokoh masyarakat.
 Narasumber berasal dari subdit kekarantinaan kesehatan subdit penyakit infeksi emerging Ditjen P2P Kementrian Kesehatan RI dan KKP kelas II jayapura.
 

                                                 

                                     


   

    


Share:

SOSIALISASI PENYUSUNAN RENKON WILAYAH KERJA PELABUHAN LAUT SARMI

                                                             SOSIALISASI PENYUSUNAN RENKON
                                                        WILAYAH KERJA PELABUHAN LAUT SARMI
                                             KANTOR KESEHATAN PELABUHAN KELAS II JAYAPURA
                                                                                  TAHUN 2019

A. Gamabaran Umum
          
Paradigma baru tentang ancaman kesehatan masyarakat secara global telah berubah dari ancaman kesehatan masyarakat secara global pada saat ini dan dimasa mendatang karena bukan hanya penyakit karantina (Pes,kolera dan yellow fever) sebagaimana dalam IHR 2005. Penyakit tidak mengenal batas wilayah maupun negara, dia dapat muncul dan menyerang tanpa di ketahui kapan dan dimana saja,muculnya penyakit New Emerging Disease maupun Re-Emerging Disease, seperti penyakit SARS, Avian Influensa (H5N1), Pandemi Flu baru A H1N1, Hand foot mouth disease (HFMD), Poliomielitis dan MERS CoV.

        Tujuan IHR 2005 ialah mencegah, melindungi terhadap dan menanggulangi penyebaran penyakit antar negara tanpa pembatasan perjalanan dan perdagangan  yang tidak perlu.
Inti dari amanat IHR 2005 ialah setiap negara harus  mampu mendeteksi secara dini di masyarakat dan mampu segera merespon semua kejadian berpotensi sebagai penyakit infeksi emerging (PIE).
        Disamping itu pada pintu masuk harus mampu mencegah dan mengatasi penyebaran semua penyakit/kejadian  yang berpotensi sebagai penyakit infeksi Emerging (PIE) di Point of entry (Pintu masuk) dan harus mampu mengatasi. Penyebaran penyakit lintas wilayah/negara melalui transportasi,
maka untuk mencegah penyebaran penyakit lintas wilayah/negara diatur secara internasional melalui internasional  Health regulations (IHR) 2005. Dari 66 pasal (article) dan 9 lampiran, ada 33 pasal mengatur  point of entry, Dalam IHR 2005 Lampiran 1B, Disebutkan persyaratan minimal untuk kemampuan utama bagi Point of entry
          salah satu persyaratan minimal tersebut ialah setiap point of entry harus telah mempunyai dokumen Rencana kontijensi respon menghadapi kemungkinan Public Health Emergency of international concern (PHEIC), Serta penyakit infeksi emerging (PIE)’.
         
          Untuk memaksimalkan kemampuan dan pemahaman petugas di point of entry dalam menghadapi situasi tersebut, maka kantor kesehatan pelabuhan kelas II jayapura wilayah kerja pelabuhan laut sarmi melaksanakan Sosialisasi penyusunan renkon dengan memperlihatkan langkah-langkah yang dilakukan dalam menangani dan mencegah berjangkitnya penyakit infeksi emerging di Indonesia dengan melibatkan seluruh lintas sector terkait di pintu masuk negara maupun wilayah.


B. Manfaat
           
Manfaat di selenggarakan Sosialisasi penyusunan renkon, Penanganan penyakit infeksi
emerging pada situasi rutin maupun respon PHEIC adalah :
1. Memberikan acuan kepada petugas KKP, Maupun Stakeholder di lingkungan pelabuhan dan wilayah
    agar dapat melaksanakan penanganan penyebaran penyakit menular berpotensi wabah secara
    terencana,terpadu,terkoordinasi dan menyeluruh.

 2. Penguatan demi terwujudnya  mekanisme komunikasi, koordinasi dan control yang terstruktur dalam
      penanganan (PIE) di pintu masuk negara/wilayah.                                                                                                                                                  
 3.  Terlatihnya petugas KKP dan stake holder terkait dalam melaksanakan tindakan penyehatan rutin
      maupun respon kedaruratan termasuk mengoperasikan peralatan sesuai standar Operasional
      Prosedur yang berlaku.

C. Waktu pelaksanaan kegiatan.
          
Kegiatan dilaksanakan Hari kamis tanggal 31 oktober 2019 bertempat di Ruang pertemuan kantor kesehatan pelabuhan jayapura wilker pelabuhan laut sarmi (Depan tugu yamagata)
Kegiatan di buka oleh kepala dinas kesehatan kabupaten sarmi oleh dr.Zadrak,Sp.B yang di hadiri dari dinas ksehatan kabupaten sarmi, Pemda Kab.sarmi, stakeholder, tokoh agama dan tokoh masyarakat.
        Narasumber berasal dari subdit kekarantinaan kesehatan subdit penyakit infeksi emerging Ditjen P2P Kementrian Kesehatan Republik Indonesia dan KKP kelas II jayapura.
   



                                                   

         
                                                                   

















Share:

SOSIALISASI PROSEDUR PENGAWASAN DAN RUJUKAN ORANG SAKIT


SOSIALISASI PROSEDUR PENGAWASAN DAN RUJUKAN ORANG SAKIT DI WILAYAH KERJA KANTOR KESEHATAN PELABUHAN KELAS II JAYAPURA
16 September 2019


Kegiatan ini bertujuan untuk mensosialisaikan layanan rujukan orang sakit dalam Wilayah Kerja Kantor Kesehatan Pelabuhan Kelas II Jayapura. Penerima manfaat Sosialisasi Layanan Rujukan orang sakit adalah masyarakat, lintas program, lintas sektor di Wilayah Kerja PLBN Skouw.
Kegiatan bertempat di Hotel @Hom Premier Tanah Hitam pada tanggal 16 September 2019 dihadiri oleh 42 peserta dengan narasumber berasal dari RSUD Jayapura dengan materi Penatalaksaan Rujukan Orang sakit, Kepala KKP Jayapura dengan materi Kebijakan pelaksanaan Kekarantinaan Kesehatan dalam konteks Pengawasan Lalu Lintas orang sakit di KKP Jayapura berdasarkan UU nomor 6 Tahun 2018, dan dokter KKP Jayapura dengan materi Pelaksanaan Kegiatan pengawasan orang sakit dan Rujukan pada KKP Jayapura. Sosialisasi layanan rujukan orang sakit menghasilkan kesepakatan bersama yang ditandatangani perwakilan peserta, antara lain :
1.      UPBU Kelas I Utama Sentani, KSOP Jayapura, Administrator PLBN Skouw siap bekerjasama dengan KKP dalam mendukung pelaksanaan pengawasan dan rujukan orang sakit di wilayah kerja KKP Jayapura.
    2. RSUD Jayapura, RSUD Abepura, RSUD Yowari, RS Dian Harapan, RS Bhayangkara, RS Angkatan Laut, RS Marthen Indey, RS Provita,  siap bekerja sama dalam melaksanakan layanan rujukan orang sakit di wilayah kerja KKP Jayapura.
3.      Pihak Airlines dan ground handling siap bekerjasama dengan KKP untuk melaksanakan rujukan orang sakit menggunakan alat angkut pesawat.
4.      Pihak Pelindo dan Agen pelayaran siap bekerjasama dengan KKP untuk melaksanakan rujukan orang sakit menggunakan alat angkut Kapal.
5.      Stakeholder di wilayah Bandara, pelabuhan , PLBN siap meneruskan informasi layanan rujukan orang sakit.
 Hasil dokumentasi terlampir.





















Share:

PELATIHAN BHD BAGI PETUGAS KKP DAN STAKEHOLDER WILKER BANDARA SENTANI 10 September 2019


PELATIHAN BHD BAGI PETUGAS KKP DAN STAKEHOLDER
WILKER BANDARA SENTANI

10 September 2019



Bantuan Hidup Dasar (BHD) adalah tindakan darurat untuk membebaskan jalan napas, membantu pernapasan dan mempertahankan sirkulasi darah tanpa menggunakan alat bantu yang dilakukan oleh orang yang berada di sekitar korban termasuk masyarakat awam segera setelah kejadian sehingga dapat meningkatkan kelangsungan hidup korban. Tindakan bantuan hidup dasar yang terlambat dan tidak sesuai dengan prosedur dapat mengakibatkan gagalnya upaya penyelamatan..  
Dalam konteks pelayanan kesehatan, Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) berperan dalam melakukan pertolongan pertama terhadap pelaku perjalanan baik yang akan menggunakan alat transportasi laut, udara, maupun darat. Petugas KKP dan Stakeholder yang ada di wilayah kerja untuk pemberian Bantuan Hidup Dasar (BHD).
Kegiatan bertempat di Ruang Rapat UPBU Bandara Sentani pada tanggal 10 September 2019 dihadiri oleh 25 peserta dengan narasumber berasal dari RSUD Jayapura sebagai perwakilan HIPGABI Provinsi Papua dengan materi Evakuasi Korban, UPBU Sentani dengan materi Matra dirgantara Kesehatan Penerbangan, dan Dokter KKP Jayapura dengan materi BHD pada semua kelompok umur.

Hasil dokumentasi terlampir.























Share:

Stop Gratifikasi!

Stop Gratifikasi!

Tayangan 1 Bulan Terakhir

Blogroll


DOKUMENTASI EVALUASI PELAKSANAAN SURVEILANS DAN PENGENDALIAN PENYAKIT DI PINTU MASUK SERTA PENGENDALIAN FAKTOR RISIKO LINGKUNGAN PADA PEKAN OLAHRAGA NASIONAL (PON) XX/PEPARNAS XVI PAPUA

DOKUMENTASI EVALUASI PELAKSANAAN SURVEILANS DAN PENGENDALIAN PENYAKIT DI PINTU MASUK SERTA PENGENDALIAN FAKTOR RISIKO LINGKUNGAN PADA ...

MARS KKP

Diberdayakan oleh Blogger.